Sabtu, 05 Januari 2013


Gaya Belajar Siswa Menurut David Kolb

Permendiknas No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses mengisyaratkan bahwa dalam proses pembelajaran, seorang guru seyogyanya dapat memperhatikan karakteristik siswanya. Karakteristiktik siswa sesungguhnya memiliki cakupan yang luas. Salah satu karakteristik siswa yang perlu diperhatikan guru dan akan mewarnai  terhadap efektivitas belajar dan pembelajaran yaitu berkenaan dengan gaya belajar siswa.

Secara sederhana, gaya belajar siswa atau student learning style dapat diartikan sebagai karakteristik kognitif, afektif, dan perilaku psikologis seorang siswa tentang bagaimana dia memahami sesuatu, berinteraksi dan merespons lingkungan belajarnya, yang bersifat  unik dan relatif stabil.

Dalam berbagai literatur tentang belajar dan pembelajaran, kita akan menjumpai sejumlah konsep tentang gaya belajar siswa, dan salah satunya adalah gaya belajar sebagaimana dikemukakan oleh David Kolb, salah seorang ahli pendidikan dari Amerika Serikat, yang mempopulerkan teori belajar “Experiential Learning” .
Kolb mengklasifikasikan Gaya Belajar Siswa ke dalam empat  kecenderungan utama yaitu:
  1. Concrete Experience (CE). Siswa  belajar melalui perasaan (feeling), dengan menekankan segi-segi pengalaman kongkret,  lebih mementingkan relasi dengan sesama dan sensitivitas terhadap perasaan orang lain.  Siswa melibatkan diri sepenuhnya melalui pengalaman baru,  siswa  cenderung lebih terbuka dan mampu beradaptasi terhadap perubahan yang dihadapinya.
  2. Abstract Conceptualization (AC). Siswa belajar melalui pemikiran (thinking) dan lebih terfokus pada analisis logis dari ide-ide, perencanaan sistematis, dan pemahaman intelektual dari situasi atau perkara yang dihadapi. Siswa menciptakan konsep-konsep yang mengintegrasikan observasinya menjadi teori yang sehat, dengan mengandalkan pada perencanaan yang sistematis.
  3. Reflective Observation (RO). Siswa belajar melalui pengamatan (watching), penekanannya mengamati sebelum menilai, menyimak suatu perkara dari berbagai perspektif, dan selalu menyimak makna dari hal-hal yang diamati. Siswa akan menggunakan pikiran dan perasaannya untuk membentuk opini/pendapat, siswa mengobservasi dan  merefleksi pengalamannya dari berbagai segi.
  4. Active Experimentation (AE). Siswa belajar melalui tindakan (doing), cenderung kuat dalam segi kemampuan melaksanakan tugas, berani mengambil resiko, dan mempengaruhi orang lain lewat perbuatannya. Siswa akan menghargai keberhasilannya dalam menyelesaikan pekerjaan, pengaruhnya pada orang lain, dan prestasinya. Siswa menggunakan teori untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan .
Selanjutnya Kolb mengemukakan, bahwa setiap individu  tidak didominasi oleh satu gaya belajar tertentu secara absolut, tetapi cenderung membentuk  kombinasi dan konfigurasi gaya belajar tertentu,  yang diklasifikasikannya ke dalam 4 (empat)  tipe:

Tipe 1. Diverger.
Tipe ini perpaduan antara Concrete Experience (CE) dan  Reflective Observation (RO), atau dengan kata lain kombinasi dari perasaan (feeling) dan pengamatan (watching). Siswa dengan tipe Diverger memiliki keunggulan dalam kemampuan imajinasi dan melihat situasi kongkret dari banyak sudut pandang yang berbeda, kemudian menghubungkannya menjadi sesuatu yang bulat dan utuh. Pendekatannya pada setiap situasi adalah “mengamati” dan bukan “bertindak”.  Siswa seperti ini menyukai tugas belajar yang menuntutnya untuk menghasilkan ide-ide  dan gemar mengumpulkan berbagai informasi, menyukai isu tentang kesusastraan, budaya, sejarah, dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Mereka biasanya lebih banyak bertanya “Why?”. Peran dan fungsi  guru yang cocok untuk menghadapi siswa tipe ini adalah sebagai Motivator.
Tipe 2. Assimilator.
Tipe kedua ini  perpaduan antara Abstract Conceptualization (AC)  dan  Reflective Observation (RO) atau dengan kata lain kombinasi dari pemikiran  (thinking) dan pengamatan (watching). Siswa dengan tipe Assimilator memiliki keunggulan dalam memahami dan merespons berbagai sajian informasi serta mengorganisasikan merangkumkannya dalam suatu format yang logis, singkat, dan jelas.  Biasanya siswa  tipe ini cenderung lebih teoritis, lebih menyukai bekerja dengan ide serta konsep yang abstrak,  daripada bekerja dengan orang.   Mata pelajaran yang yang diminatinya adalah bidang sains dan matematika.  Mereka biasanya lebih banyak bertanya “What?”.  Peran dan fungsi guru yang cocok untuk menghadapi siswa tipe ini adalah sebagai seorang Expert.
Tipe 3. Converger.
Tipe ini  perpaduan antara Abstract Conceptualization (AC)  dan  Reflective Observation (RO) atau dengan kata lain kombinasi dari berfikir (thinking) dan berbuat (doing). Siswa mampu merespons terhadap berbagai peluang  dan mampu bekerja  secara aktif dalam setiap tugas yang terdefinisikan secara baik. Siswa  gemar  belajar bila menghadapi soal dengan jawaban yang pasti, dan  segera berusaha mencari jawaban yang tepat.  Dia mau belajar secara trial and error hanya dalam lingkungan yang dianggapnya relatif aman dari kegagalan.
Siswa dengan tipe Converger unggul dalam menemukan fungsi praktis dari berbagai ide dan teori. Biasanya mereka punya kemampuan yang baik dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Mereka juga cenderung lebih menyukai tugas-tugas teknis (aplikatif). Dia cenderung tidak emosional dan lebih menyukai bekerja yang berhubungan dengan benda dari pada manusia, masalah sosial atau hubungan antar pribadi.
Mata pelajaran yang yang diminati adalah bidang IPA dan teknik. Mereka biasanya lebih banyak bertanya “How?”.  Peran dan fungsi guru yang cocok untuk menghadapi siswa tipe ini adalah sebagai seorang Coach,  yang dapat menyediakan praktik terbimbing  dan dapat memberikan umpan balik yang tepat.
Tipe 4. Accomodator
Tipe ini  perpaduan antara Concrete Experience (CE) dan  Active Experimentation (AE)  atau dengan kata lain kombinasi antara  merasakan   (feeling) dengan berbuat (doing). Siswa tipe ini senang mengaplikasikan materi pelajaran dalam berbagai situasi baru untuk memecahkan berbagai masalah nyata yang dihadapinya. Kelebihan siswa tipe ini memiliki kemampuan belajar yang baik dari hasil pengalaman nyata yang dilakukannya sendiri. Mereka suka membuat rencana dan melibatkan dirinya dalam berbagai pengalaman baru yang menantang. Dalam usaha memecahkan masalah, mereka biasanya mempertimbangkan faktor manusia (untuk mendapatkan masukan/informasi) dibanding analisa teknis. Mereka cenderung untuk bertindak berdasarkan intuisi/dorongan hati daripada berdasarkan analisa logis, sering  menggunakan trial and error dalam memecahkan masalah, kurang sabar dan ingin segera bertindak. Bila ada teori yang tidak sesuai dengan fakta cenderung untuk mengabaikannya. Mata pelajaran yang disukainya yaitu berkaitan dengan lapangan usaha (bisnis) dan teknik.
Mereka biasanya lebih banyak bertanya “What if?”.  Peran dan fungsi guru dalam berhadapan dengan siswa tipe ini  adalah berusaha menghadapkan siswa pada “open-ended questions”, memaksimalkan kesempatan siswa untuk mempelajari dan menggali  sesuatu  sesuai pilihannya. Penggunaan Metode Problem-Based Learning  tampaknya sangat cocok  untuk siswa tipe yang keempat ini.




Pembelajaran Yang Tidak Mencerdaskan
 
Pembelajaran yang tidak mencerdaskan memang ada. Yaitu pembelajaran yang tidak mampu mengubah siswa menjadi lebih cerdas daripada sebelumnya. Ciri-ciri pembelajaran yang tidak mencerdaskan:
(1) pembelajaran hanya berupa penyampaian materi pelajaran tanpa penguasaan oleh siswa;
(2) pembelajaran hanya berpusat pada kegiatan guru tanpa melibatkan keaktifan siswa secara menyeluruh;
(3) pembelajaran tidak menginspirasi siswa menuju kesuksesan hidup!
Pembelajaran yang tidak mencerdaskan tergolong ke dalam pembelajaran yang tidak bermakna.
Agar tidak terjebak pada pembelajaran yang tidak mencerdaskan, guru perlu membaca ulang ketentuan yang diatur dalam Permendiknas No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses. Dalam lampiran Permendinas tersebut terutama yang terkait dengan pelaksanaan pembelajaran disebutkan bahwa pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, me­motivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativi­tas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Berdasarkan Permendiknas tersebut, maka pelaksanaan pembelajaran harus berlangsung secara interaktif, menginspirasi siswa untuk melakukan hal-hal lain ke arah pengembangan pribadi dan kesuksesan, menantang siswa untuk menjadi lebih baik, siswa termotivasi untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran, serta potensi siswa benar-benar berkembang baik fisik maupun psikologisnya.
Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pela­ jaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.
Ketika guru memenuhi ketentuan standar proses dalam melaksanakan pembelajaran di kelas, maka pembelajaran tersebut pasti mencerdaskan, dalam arti mampu mengubah siswa menjadi lebih cerdas. Bagaimana tidak? Kegiatan inti dalam pembelajaran yang meliputi eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi sebetulnya merupakan cara guru mencerdaskan peserta didik. Dan ketiga kegiatan inti secara menyeluruh juga mendukung pengembangan kecerdasan sesuai teori kecerdasan ganda seperti dikemukakan Howard Gardner.

Kamis, 03 Januari 2013


A.10 langkah menjadi guru ideal dan inovatif
    Menjadi guru yang ideal dan inovatif adalah sebuah tuntutan yang tidak bias dielakkan. Masa depan bangsa ini ditentukan oleh kader – kader muda bangsa, sedangkan penaggung jawab utama masa depan kader kader muda tersebut berada di pundak guru, karena gurulah yang langsung berinteraksi dengan mereka dalammembentuk kepribadian, memberikan pemahaman, mengembangkan imajinasi dan cita – cita , membangkitkan semangat, dan menggerakan kekuatan mereka.
    Dari gurulah, siswa – siswa membayangkan masa depannya, merancang sebuah impian hidupnya, dan melihat jauh keangkasa, terbang setinggi langit laksana anak panahyang lepas dari busurnya. Jika busurnya (guru) mempunyai kekuatan besar dan visi yang jauh ke depan. Namun sebaliknya jika busurnya lemah, bahkan gagal melest karena hilangnya kekuatan.
Agar menjadi guru ideal dan inovatif yang mampu melesatkan anak panah dengan kekuatan penuh keangkasa, maka hal – hal di bawah ini bias menjadi renungan bersama.
1.    Menguasai materi Pelajaran secara Mendalam
2.    Mempunyai Wawasan Luas
3.    Komunikatif
4.    Dialogis
5.    Menggabungkan Teori dan Praktik
6.    Bertahap
7.    Mempunyai Variasi Pendekatan
8.    Tidak Memalingkan Materi Pelajaran
9.    Tidak Terlalu Menekan dan Memaksa
10. Humoris tanpa Serius
            
Hikmah

21 budi pekerti mulia dari riwayat Imam Ali Ibn Abi Tholib :          
  1. Budi pekerti yang mulia ada sepuluh: dermawan, malu, jujur, menyampaikan amanat, rendah hati (tawadhu), cemburu jika aturan Allah dilanggar, berani, santun, sabar, dan syukur.
  2. Tiga macam orang yang tidak diketahui kecuali dalam tiga situasi: (pertama), tidak diketahui orang pemberani kecuali dalam situasi perang. (Kedua), tidak diketahui orang yang santun kecuali ketika sedang marah. (Ketiga), tidak diketahui sebagai teman kecuali ketika (temannya) sedang membutuhkan.
  3. Janganlah sekali kali engkau menjadi orang yang keburukannya lebih kuat daripada kebaikannya, kekikirannya lebih kuat daripada kedermawanannya, dan kekurangannya lebih kuat daripada kebajikannya.
  4. Pandanglah buruk pada dirimu apa yang engkau pandang buruk pada selainmu.
  5. Semulia-mulia nasab adalah akhlak yang baik.
  6. Tidak ada teman yang seperti akhlak mulia baik, dan tidak ada harta warisan seperti adab.
  7. Hendaklah engkau ridha akan perlakuan orang-orang terhadapmu sama seperti engkau ridha atas perlakuanmu terhadap mereka.
  8. Adab adalah pusaka yang terbaik.
  9. Jika engkau menyukai akhlak yang mulia, maka hendaklah engkau menjauhi segala hal yang haram.
  10. Tidak adanya adab adalah sebab segala kejahatan.
  11. Perjalanan adalah ukuran akhlak.
  12. Kasihanilah orang-orang fakir yang sedikit kesabarannya, kasihanilah orang-orang kaya yang sedikit syukurnya, dan kasihanilah semua karena lamanya kelalaian mereka.
  13. Kemuliaan keturunan yang paling tinggi adalah akhlak yang baik.
  14. Ketakwaan adalah akhlak yang utama.
  15. Akhlak yang baik adalah sebaik-baik teman.
  16. Kalau segala sesuatu harus dipisah pisahkan, maka dusta tetap bersama takut, kejujuran bersama keberanian, santai bersama keputusasaan, kelelahan bersama ambisi, keterhalangan bersama kerakusan, dan kehinaan bersama utang.
  17. Hendaklah kalian menjaga adab. Sebab, jika kalian raja, pasti kalian akan melebihi raja-raja yang lain. Jika kalian penengah, pasti kalian akan dapat mengatasi (yang lain); dan jika kehidupan kalian miskin, pasti kalian akan dapat hidup (terhormat) dengan adab kalian.
  18. Pilihlah untuk diri kalian, dari setiap kebiasaan yang paling bagusnya, karena sesungguhnya kebaikan merupakan kebiasaan.
  19. Semulia mulia raja adalah yang tidak dicampuri kesombongan dan tidak menyimpang dari kebenaran. Sekaya kaya orang adalah yang tidak tertawan oleh ketamakan. Sebaik baik kawan adalah yang tidak menyulitkan kawan kawannya. Dan sebaik baik akhlak yang paling dapat membantunnya dalam ketakwaan dan kewara'an (kehati-hatian dalam beragama).
  20. Seseorang tidak akan menjadi mulia sehingga dia tidak peduli dengan pakaian yang mana saja dia muncul (di tengah tengah masyarakatnya)
  21. Adab adalah pakaian yang senantiasa baru.